FAQ Project Panduan Standard Ketentuan Policy Meeting Keanggotaan
IPv4 Anda: 38.107.191.100    
Cari Whois :
 
Berita Terkini
 
Pendaftaran APNIC Training & APJII OPM 2009 telah dibuka!
Kepada Yth.
Anggota APJII & Direct Member IDNIC

Bersama ini kami sampaikan bahwa pendaftaran ... more>>
APNIC 26 Meeting, 25 - 29 August 2008. Christchurch - New Zealand
APNIC invites you to Christchurch, New Zealand, for APNIC 26. Official website
 more>>
AS number change could affect Internet routing from 1 January 2009
Manufacturers urged to upgrade routers and network management
software to support the use of ... more>>
 
 
 
Lebih Baik, Adopsi IPv6 Secara Native


Detikcom - Jakarta,27/072004 : Adopsi IPv6 secara native
pada backbone Internet di Indonesia dapat mendorong tumbuhnya aplikasi IPv6.
Cara ini juga lebih baik dari dual stack IPv4 dan IPv6.

Sanjaya, Senior Project Manager APNIC (Asia Pacific Network
Information Centre), mendukung upaya dari beberapa pihak untuk menerapkan IPv6
secara native di Indonesia. "Kalau untuk IIX (Indonesia Internet eXchange)
tidak ada masalah.. tinggal masalahnya, apakah setiap ISP (Internet Service
Provider) sudah siap?" ujar Sanjaya kepada detikcom di sela-sela konferensi
NICE (national internet conference and education) 2004, Hotel Hilton, Jakarta,
Selasa (27/07/2004).


Mengadopsi IPv6 (internet protocol version 6) secara native
berarti semua paket data yang mengalir di lalu-lintas Internet Indonesia menggunakan
format protokol internet versi terbaru itu. "Dengan adanya ini, nantinya
ketika klien ISP sudah menginginkan aplikasi yang memanfaatkan keunggulan IPv6,
tinggal jalan saja," Sanjaya menjelaskan.


Agar hal ini terwujud, dari sisi ISP harus mengaktifkan kemampuan
IPv6 pada router yang terhubung ke IIX. Selain itu, setiap ISP juga harus menyediakan
router untuk menerjemahkan format IPv4 yang dipakai klien ke dalam format IPv6.


'Bakar Jembatan'


Selain menerapkan IPv6 secara native, sebenarnya Indonesia
bisa saja membuat koneksi dual stack ke IIX. Artinya, membuat sambungan antara
ISP dan IIX yang mampu mengalirkan data IPv4 dan IPv6.


Cara itu, menurut Sanjaya, akan menambah beban pada IIX. "Sebetulnya
cara ini tidak salah.. hanya saja 'banci', setengah-setengah dan akibatnya aplikasi
IPv6 tidak akan berkembang pesat," ujarnya.


Pendiri ISP komersial pertama di Indonesia ini mengibaratkan
adopsi secara native sebagai langkah menyeberangi jembatan kemudian membakar
jembatan tersebut. "Kalau sudah 'bakar jembatan' seperti itu, mau tidak
mau kita harus maju," ujar Sanjaya.


Perpindahan ke IPv6 merupakan sebuah proses yang cepat atau
lambat akan dialami oleh Internet di Indonesia. Pasalnya, alamat IPv4 berjumlah
terbatas dan bisa jadi akan segera habis. Padahal, tanpa alamat IP sebuah alat
(baik itu komputer, ponsel ataupun alat lainnya) tidak dapat berhubungan dengan
Internet.


Sanjaya meyakini migrasi ISP ke IPv6 tidak akan membutuhkan
biaya yang sangat besar. "Router ISP ke IIX umumnya telah memakai sistem
operasi yang sudah mampu menjalankan IPv6... mungkin untuk perangkat penerjemah
(dari IPv4 ke IPv6 -red.) masih perlu hardware, karena tidak mungkin dibebankan
ke router yang sama," ia menambahkan.



 
 

.: Pelayanan | Berita | Proyek | Sponsor | Hubungi Kami .:
© 2007 - INDONESIA NETWORK INFORMATION CENTER
Comments to: programmer@idnic.net